Cerita Rakyat Malin Kundang yang Melegenda Sepanjang Masa

Cerita Rakyat Malin Kundang yang Melegenda Sepanjang Masa

Kisah ini adalah cerita rakyat atau dongeng malin kundang yang sudah melegenda sejak dulu hingga sekarang ini. Pada suatu hari hiduplah seorang janda dengan satu anak laki-lakinya, yaitu Mande Rubayah. Mande Rubayah memiliki seorang anak bernama Malin Kundang. Mande Rubayah memiliki anak laki-laki yang selalu ia manjakan. Hingga anak tersebut tumbuh remaja dan dengan berbagai macam cara Mande Rubayah lakukan untuk melindungan anak semata wayangnya itu.

Hingga suatu ketika Malin Kundang sakit keras. Mande Rubayah tak tinggal diam, ia lakukan segala cara untuk menyembuhkan anaknya itu. Berkat doa dan usahanya, akhirnya Malin Kundang sembuh dari penyakit yang hampir saja membunuhnya. Melihat itu, Mande Rubayah sangat gembira dan selalu bersyukur bahwa Malin Kundang bisa sembuh dan sehat kembali seperti sedia kala.

Karena Mande Rubayah semakin tua, ia tak bisa bekerja banyak seperti dulu, ia hanya mampu bekerja berjualan kue dan dijual keliling atau hanya berada di pasar saja. Melihat itu, Malin Kundang yang sudah beranjak dewasa pun merasa kasihan terhadap ibunya tersebut. Hingga kemudian muncul ide bahwa ia ingin merantau untuk mendapatkan pekerjaan yang layak dan membantu ibunya dalam segi ekonomi.

Lalu suatu ketika, Malin Kundang meminta ijin kepadanya Ibunya untuk pergi merantau. Dengan perasaan cemas, Mande Rubayah tidak mengijinkan Malin Kundang untuk berlayar atau merantau. Hari demi hari, Malin Kundang meyakinkan ibunya, Mande Rubayah, untuk merestuinya pergi merantau. Dengan kegigihan Malin Kundang meyakinkan Ibunya, akhirnya pun Mande Rubayah memberikan restunya dengan perasaan yang sangat berat.

Tak lama kemudian Malin Kundang pun berkemas dan bersiap untuk berlayar untuk merantau. Lalu dengan berat hati Mande Rubayah, ibunda Malin Kundang, mengantarkannya dengan perasaan yang sangat sedih dan khawatir. Ia hanya bisa berdoa untuk anaknya tersebut agar selamat dan pulang dengan keadaan yang baik.

Sejak Malin Kundang memutuskan untuk merantau, Ibunya tanpa lelah selalu menanyakan keadaan Malin Kundang ke pelabuhan. Barangkali ada kabar darinya yang sudah lama tak kunjung pulang. Namun, dari sekian banyak kapal yang sandar, tak ada satu pun kabar dari Malin Kundang. Bahkan hanya sepcuk surat pun juga tak ada untuk Ibunya yang tua renta itu.

Hingga suatu ketika, ada satu kapal kapal sandar dan seseorang tetiba menghampiri Mande Rubayah da mengatakan bahwa Ia melihat Malin Kundang. Dengan mata berbinar dan bahagia mendengar kabar itu Mande Rubayah kemudian menanyakan bagaimana keadaannya sekarang. Seseorang awak kapal itu mengatakan bahwa kini Malin Kundang sangat sukses dan hidup bergelimang harta karena Ia menikahi seorang putri bangsawan.

Mendengar hal itu Mande Rubayah sangat gembira. Walaupun ada perasaan sedih karena bahkan saat Malin Kundang menikah Ia tak memberi kabar pada ibunya sendiri. Akan tetapi dengan penuh harapan Mande Rubayah mengharapkan kepulangan anaknya dengan selamat dan bahagia. Perkara Ia menikah dengan putri bangsawan Ia pikirkan belakangan. Dan Mande Rubayah pun hanya bisa berdoa agar putranya pulang ke pelukannya dengan keadaan baik.

Tak lama kemudian sebuah kapal besar sandar di pelabuhan. Dan ternyata adalah Malin Kundang beserta istrinya. Dengan gagahnya Malin Kundang turun dari kapal. Ia mengenakan pakaian yang sangat berkilau mewah, pun juga sang istri juga demikian. Banyak orang bersorak dan menunggu di bawah seolah-olah sedang menyambut bangsawan.

Mendengar hal itu Mande Rubayah pun segera menuju ke pelabuhan. Dengan tubuhnya yang semakin tua dan renta, Ia berdesakan membelah lautan manusia yang memadati pelabuhan demi bertemu anak semata wayangnya. Hingga akhirnya Ia menemui Malin Kundang. Mande Rubayah dengan sangat bahagia tanpa pikir panjang kemudian mengaburkan pelukannya ke Malin Kundang.

Meliat hal tersebut sang istri pun bertanya pada Malin Kundang “Apakah nenek tua miskin dan peyot ini adalah ibumu, Malin? Kau bilang Ibumu seorang bangsawan yang cantik dan kaya? Apa Kau berbohong padaku, Malin?”. Mendengar hal tersebut kemudian Malin Kundang menendang ibunya hingga tersungkur dan berucap kasar yang menyatakan bahwa Ia tidak mengakui bahwa itu adalah ibu kandungnya. Lalu Malin Kundang dan istrinya pun bergegas pergi dari pulau tersebut.

Dengan sangat marah dan sakit hati, ibunya kemudian berdoa pada agar memberikan keadilan pada kehidupannya tersebut. Di mana anaknya bisa mendapatkan hukuman atas sakit hatinya. Tak lama dari itu, kapal Malin Kundang terkena badai dan hancur berantakan. Kemudian Malin Kundang pun berubah menjadi batu yang terdampar di pulau terpencil. Pesan moral yang bisa disampaikan dari cerita rakyat Malin Kundang ini adalah bahwa kita sebagai anak harus berbakti dan tidak boleh menyakiti hati orang tua. Karena doa orang tua, terlebih Ibu, sangat mujarab.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *